Detail Berita

Ubah Strategi Tingkatkan Ekspor

  • Senin 06 Juni 2011
  • Dibaca: 1112 Pengunjung
Ubah Strategi Tingkatkan Ekspor
Para pengrajin harus mengubah strategi pemasaran untuk bisa bertahan dan meningkatkan jumlah ekspornya, terutama para pengrajin bambu. Hal tersebut di  ungkapkan praktisi sekaligus pemilik usaha kerajinan bambu, Ida Bagus Made Arjawa pada Pelatihan Desain dan Diversifikasi Produk Furniture Bambu di Work Shop Surya Jaya Bambu, Desa Bone Blahbatuh Gianyar (6/6). Lebih Lanjut, di tengah perdagangan bebas dan krisis ekonomi yang melanda dunia terutama eropa, pengrajin dan produsen kerajinan bambu, harus lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan design produk kerajinan khusunya furniture. Saat ini trend pasar internasional mulai bergeser pada produk yang multifungsi. Sebagai contoh, untuk kerajinan bambu, produk yang paling diminati terutama pasar Perancis adalah Gajebo dengan tambahan laci dan lemari di bagian atas ataupun bawahnya, sehingga bisa berfungsi sebagai tempat duduk, tempat tidur dan penyimpanan. Dalam satu tahun permintaan gajebo multifungsi mampu mencapai 3000 buah. “Saat ini pengrajin harus berani keluar dari pakem yang biasa, mulai menambahkan gaya baru yang inovatif dan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain namun sangat menarik dan menjual”. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar, I Wayan Suamba, Kerajinan bambu merupakan produk unggulan Kabupaten Gianyar, terutama ekspor. Satu bulan terakhir eksport non migas memang terjadi sedikit penurunan. Pada bulan April Ekspor nonmigas Kabupaten Gianyar secara komulatif turun 18,70 %. Menyikapi hal tersebut, para pengrajin dan produsen harus meningkatkan kualitas produk baik design maupun bahan sehingga mampu bersaing dengan Negara pengekspor lain, terutama Negara tirai bambu (China). Untuk itu pelatihan design dan diversifikasi produk furniture bambu perlu diberikan kepada para pengrajin agar kemampuan pengrajin meningkat, sehingga mampu menyelesaikan persoalan dan permasalahan terutama pada produk furniture bambu. Senada dengan Wayan Suamba, Kepala Dinas Perindag Provinsi Bali, Gede Darmaja mengatakan, pengrajin tidak perlu takut kehilangan pasar ekspor, karena Produk kerajinan bamboo dari Bali, memiliki aura dan karisma yang berbeda sehingga lebih diminati. Namun agar lebih  mampu bersaing harus mampu membuat suatu yang berbeda terutama pada design. Selain tujuan ekspor ke negara dominan (USA, Jepang, Perancis, Australia, Spanyol), saat ini ekspor keraijnan mulai melirik kawasan arab dan afrika, selain karena negara tersebut mulai menyukai produk kerajinan Bali juga karena perekonomian kawasan tersebut yang semakin baik. Dalam laporannya, Ketua panitia pelatihan Desain dan Diversifikasi Produk Furniture Bambu, I Komang Wardianto Astika menjelaskan pelatihan dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 6/6 hingga 10/6 dan diikuti sebanyak 24 orang pengrajin bambu. Dengan narasumber Direktur Pusat Pengembangan Desain Kerajinan Bali, I Made Raka Metra dan praktisi Kerajinan bambu, Ida Bagus Made Arjawa. (Humas Gianyar)

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita